Curhat Untuk Sahabat

Selamat Pagi,

Saat kamu baca blogpost yang saya tulis ini, mungkin saya sudah memulai aktivitas hari ini seperti biasanya. Bukan mbak-mbak kantoran seperti Meltari yang kamu pikir, tapi mencecap pengalaman baru setiap harinya yang selalu mengejutkan. Uhmm, saya tidak akan mendongeng, saya tidak memiliki kemampuan itu sama sekali walau saya senang bercerita, justru saya ingin menceritakan kisah seorang pendongeng.

Properti buatan tangan untuk Shadow Puppet di Pluit. Kopi Oey jadi TKPnya.Properti Caterpillar buatan tangan untuk Shadow Puppet di Pluit. Kopi Oey jadi TKP pembuatannya.

Dia akan selalu membisikkan ribuah kisah penerawang jiwa, akan luluh dengan mudahnya dengan anak-anak, mendapatkan energi seperti jutaan watt dari tatapan bocah-bocah lucu. Naluri anak sulungnya bisa jadi membentuk karakternya yang hangat dan dapat merangkul, mudah sekali dekat dengan anak-anak. Sepertinya belum ada momen saya melihat ada anak kecil yang lantas menangis saat dia gendong, justru tangisnya reda saat dia menggendongnya. Percaya dong kalau dia pernah menjadi guru preschool walau ada pro kontra dibalik ‘panggilannya’ itu. Oh iya kembali lagi dengan kemampuan mendongengnya, pernah suatu kali saya diajak menjadi asistennya mendongeng untuk bocah-bocah lucu saat libur sekolah di daerah Pluit. Puppet shadow adaptasi cerita The Very Hungry Caterpillar oleh Eric Carle.

Sedikit banyak kemampuan bertutur Angguni a.k.a Gone, subjek dalam tulisan ini paralel dengan kemampuannya menulis, tulisan jenakanya bisa kamu intip kesini. Mau membaca tulisan yang lebih serius ? Profesinya saat ini adalah redaktur pada sebuah majalah dengan segmen keluarga. Tambah bangga dong jadi temannya ? Pastinya.

Tatapan bocah-bocah lucu ini menunggu Shadow Puppet sesaat sebelum dimulaiTatapan bocah-bocah lucu ini menunggu Shadow Puppet sesaat sebelum dimulai

Hobi lainnya gadis ini menari. Menari dengan hati dan mencintai sepenuh hati. Seperti mendongeng, ini alamiah, luwes sekali lho gerakannya. Gadis Jawa ini sungguh menghayati gerakan demi gerakan saat menari, bukan hanya asal goyang-goyang. Satu yang luar biasa dia pernah berefleksi bagaimana menari itu adalah bagian kontemplasi dalam aksi, setiap tarikan napas, setiap gerakan dan setiap langkah kaki disadari sebagai bentuk berdoa kepada Tuhan. Luar biasa kan ? Nggak hanya itu, profilnya pernah masuk di sebuah harian Ibukota dua tahun lalu. Bangga dong bisa jadi temannya ? Sayangnya, kami belum pernah berada satu panggung dalam skala pementasan Internasional, semoga waktu kelak mewujudnyatakannya. Amin.

IMG_0001Europe on Screen 2014

Tentang kegemaran kami ? Banyak salah satunya : menonton festival film Eropa. Jangan tanya berapa film yang mampu kami tonton dalam sehari ketika pekan Europe on Screen tiba. Seharian bisa nongkrongin Goethe, atau bolak balik ke IIC sebentar ke Erasmus Huis atau IFI Salemba hehehe. Pun terjadi saat Festival Sinema Prancis tiba. Masih ingat nggak Gon kita marathon nonton di FX ?Kegemaran kita yang lain itu jalan kaki. Kalau kamu butuh teman berbagi cerita dan berbagi peluh, Gone-lah orangnya. Jarak Kanisius Menteng Tugu Tani atau Goethe Institute ke Carolus Salemba atau sampai Kramat Sentiong, itu nggak ada apa-apanya. Buat dia jalan kaki itu sehat. *brblihatbetismasingmasing*

Kegemaran kami yang lain makan Sushi ! Dia yang mengenalkan saya kepada Rumah Sushi. Cabang Kelapa Gading, Benhil, semua sudah dicoba pun variannya. Kadang-kadang kalau dia selesai liputan lebih awal, Gone akan duduk manis di pintu Barat Plaza Indonesia sambil kirim pesan “udah nunggu di kursi dekat Setarbak” biasanya kita langsung ngacir entah ke Takigawa (banyak diskon pakai kartu kredit), Sushi Tei (kalau lagi banyak duit) atau Foodhall (paling murah untuk ukuran Salmon Sashimi), kalau yang ini biasanya sepulang ekaristi Jumat Pertama dari gereja St. Theresia.

Kegemaran kami yang lain ? Jalan-jalan. Siapa yang nggak suka ? Gone tahu betul kalau saya termasuk yang picky cari teman perjalanan, mungkin sama susahnya kayak cari jodoh ya Gon ? Hehehehe. Tapi saya merasa Gone perempuan yang tangguh untuk diajak ke segala medan. Hehehe. Kami pernah hiking bareng ke Papandayan bersama Suster Yoche, masih ingat nggak siapa yang tidur pakai sleeping bag siapa malam itu di camp Pondok Salada ?

Papandayan, Juni 2012Papandayan, Juni 2012

Pada kesempatan lainnya kami pernah ke Magelang-Jogja bersama Komang untuk menyaksikan Waisak, Mei 2013. Cerita dan pengalamannya : luar biasa ! Ingin diulang berkali-kali. Kecuali bagian Borobudur yang penuh sesak dengan manusia.Gone sering berkali-kali bilang ke saya dan Komang, wanita hebat wanita hebat. Padahal dia nggak sadar kalo saya menganggap Gone salah seorang teman saya yang memberikan banyak inspirasi dalam hidup saya.  Kenapa ?

  • Karena dia supel dan bisa masuk, berteman ke segala kalangan
  • Karena lewat dia saya bergabung dengan komunitas Magis Jakarta yang menjadikan cerita hidup saya warna-warni. Makasih Goneeeeeee 🙂
  • Karena lewat dia saya sedikit mengetahui bagaimana kehidupan “lain” di bantaran Kali Ciliwung saat menemaninya mendongeng duluuuuu sekali
  • Karena lewat dia saya belajar mencintai dan sabar terhadap anak-anak.
  • Karena lewat dia saya jadi lebih sering dan mencintai seni pertunjukan teater dan teater boneka. Jangan ditanya kapabilitasnya yang terakhir ini, dia ketua Groupies Papermoon Puppet ranting Jakarta. Pertama kali saya menonton pertunjukan Papermoon Puppet sekitar empat tahun lalu di Goethe langsung jatuh cinta.
  • Dan yang paling sangat saya syukuri dan rindukan kehadirannya sebagai seorang sahabat yang tidak menghakimi.

Gone mungkin tahu kalau saya nggak suka sama manusia yang suka nyinyir pedas sana-sini. Gone mungkin tahu kalau sedikit sekali orang yang bisa menerima kekurangan saya sebagai seorang teman yang jauh dari kata baik. Buat saya Gone itu sahabat, walau kita tidak selalu bersama-sama setiap saat. Gone ada saat saya sedang terpuruk sewaktu saya mendapatkan kenyataan pahit, saat saya patah hati. Surat elektroniknya selalu hadir dengan kata tanya apa kabar, saat kami tidak berkontak satu sama lain dalam kurun waktu tertentu, saat saya sangat jenuh termasuk saat menunggu mendiang Mama saat dirawat di Rumah Sakit setahun silam. Dia berusaha menghibur. Terima kasih ya Gone.

Kami dari Binjulid : Mata belo, gigi rapih, senyum paling sumringah abad ini :)Kami dari Binjulid : Mata belo, gigi rapih, senyum paling sumringah dekade terakhir

Kalau kamu tanya pernah nggak saya kesal sama Gone ? Pasti pernah, kadang-kadang dengan hal remeh atau prinsip yang “sedikit” berbeda. Atau karena memang tidak selalu sependapat, wajar kan ? Saya masih ingat betul, Gone salah satu teman yang tidak mendukung saya untuk ke Australia, walau pada akhirnya dia mendukung saya. Maaf ya Gon, pergi tanpa pesan, tahu-tahu kirim foto dari Bandara.

                                          *****

Untuk seorang sahabat di sudut Jakarta yang kini telah bertambah usia,
Semoga hidupmu penuh. 
Selalu dicukupkan oleh Rahmat dan CintaNya
dan selalu menjadi berkat bagi sesama.
Tak perlu ragu, jalani saja apa yang kau yakini dan kau ingini.
Semoga kelak Tuhan mempertemukanmu kepada seseorang yang mencintaimu, apa adanya.

Peluk Erat,

Melty

When there’s something you really want, fight for it ; don’t give up ! No matter how hopeless it seems. When you lose hope, ask yourself if ten years from now, you’re gonna wish you gave it just ONE more shot ! Cause the best thing in life don’t come free. –Ellen Pompeo

– 20120710_120601

p.s : Tulisan ini selesai dalam dua kali putaran album Rectoverso, akhirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s