Grief and Loss

Hampir 100 hari sejak mama meninggal. Hampir selama itulah saya lebih banyak menghabiskan waktu mengurung diri di dalam kamar. Bukan seperti vampir yang takut terkena sinar matahari di luar ruangan. Tetapi karena kehilangan semangat dan motivasi yang begitu hebatnya merobohkan niat-niat untuk melakukan sesuatu. Bila kualitas hidup dapat ditakar seperti minyak dalam penggorengan atau air dalam tempayan, di fase inilah kualitas hidup terendah saya rasakan. Tidak produktif. Sama sekali. Saya tidak berusaha untuk mencari kerja kembali, atau sekadar melakukan sesuatu yang ternilai positif. Tidak.

Bukankah tidak semua hal dapat kamu ukur ? Ukuran apa yang kamu gunakan ? Ukuran siapa ?

Pikiran saya terbang beberapa tahun silam saat mantan pacar teman saya terbaca seperti kehilangan semangatnya. Dan saya menangkap gejala itu beberapa saat setelah ia kehilangan ibunya dan beberapa tahun kemudian ayahnya. Dalam sebuah percakapan singkat di dunia maya, dia menyatakan betapa curangnya saya bisa pergi kesana kemari. Terheran-heran dia berpikir apakah saya tidak bekerja ? Saat itu saya masih tercatat sebagai karyawati, lebih tepatnya pekerja unlimited hours sebuah akuntan publik. Kepadanya saya sempat bertanya tentang hidupnya yang terlihat tidak bersemangat dan meracuninya untuk berkelana agar tetap ‘hidup’. Spontan tanpa mengelak dia mengiyakan bahwa dia tidak semangat, tidak bergairah dan bingung akan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Kemudian dengan berapi-api saya ‘memaksanya’ untuk banyak membaca, menonton atau mendengar kisah atau sesuatu yang dapat memantik semangatnya kembali. Sedih karena dia terlihat “loyo”, not passionate enough, atau bisa dibilang “hidup segan mati tak mau”. Padahal saya mengenal orang ini sebagai pribadi yang cukup antusias dalam hidup.

P1000132

And it all make sense until i feel the same one. Tanpa berusaha menyelami lebih dalam alasan dan latar belakang atau mencari kesamaan, saya merasakan sebuah pengalaman kehilangan yang mengantar saya sejauh ini ke titik terendah dalam pergulatan hidup.

Telepon genggam menjadi sarana yang selalu menemani kehilangan saya pada cinta seorang Ibu yang lebih terasa begitu saya telah kehilangannya. Penyesalan pun tidak dapat mengembalikan Mama ke samping saya saat ini. Teknologi itu mampu merekam deretan gambar saat mama drop untuk pertama kalinya dan hari-hari beliau saat dirawat. Senyumnya yang merekah saat dikunjungi sanak saudara, semangat yang besar ingin lekas sembuh, bagaimana ekspresi menghabiskan makanan kesukannya di rumah sakit sampai penyakit ganasnya itu mengambil berat badan mama perlahan-lahan. Saat rindu mama, semakin saya terus buka dan buka lagi memori itu. Bukan airmata lagi yang menetes di pipi. Itulah kegiatan saya di kamar sejak tiga bulan lalu sampai pada awal April semuanya lenyap. Mungkin Tuhan terlalu sayang saya. Dia dan Mama bekerjasama untuk “menghilangkan” semua rekaman itu. Tanpa tersisa. Satu folder foto yang menyimpan potongan cerita Mama di sisa hidupnya hilang begitu saja dalam galeri. Berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan memori itu semua tapi tidak berhasil. Dan dari sanalah saya tambah terpukul.

Kalau hanya rekaman gambar tersisa yang saya punya saat ini, kenapa harus diambil juga Tuhan ? Apa momen kehilangan ini terlihat setengah-setengah bagiMu ?

Saya semakin sadar bahwa Mama mungkin tidak menginginkan ini semua. Kalau dia boleh memilih, pasti dia masih ingin menemani saya disini. Karena dia tahu persis bagaimana situasi rumah, sebagai seorang Ibu dan sebagai seorang perempuan saya yakin Mama tidak membiarkan saya “tersakiti”. Untuk pertama kalinya sejak mama meninggal, saya menantikan momen keluar rumah, ingin berlari sejauh-jauhnya karena sudah terlalu jengah. Daripada terus bersumpah serapah dan meratapi mantra kecanggihan teknologi yang nyata-nyata tidak mampu mencari solusi, saya mencari.

Saya tidak menghakimi kalian yang selama ini ada dan terus menguatkan dan memotivasi saya untuk terus melanjutkan hidup. Tidak sama sekali. Who am i to judge you my loveliest people ? I’m going to say Thanks in a million !! (you know, this line was commonly used by mom to say thanks to show how gratitude she was to someone). Khawatir perasaan ini mengambang demikian panjang dan semakin mengganggu metabolisme hidup saya ke depan. Saya coba belajar untuk mencari tahu sendiri apa yang saya rasakan. Sampai saya menemukan ini. Sebuah teori psikologi tentang grief and loss.

  • The more significant the loss, the more intense the grief is likely to be.
  • Each individual experiences and expresses grief differently. For example, one person may withdraw and feel helpless, while another might be angry and want to take some action. No matter what the reaction, the grieving person needs the support of others. A helper needs to anticipate the possibility of a wide range of emotions and behaviors, accept the grieving person’s reactions, and respond accordingly. Therefore, it is often useful for the person in grief and for the helper to have information about the grieving process.
  • The process of grieving in response to a significant loss requires time, patience, courage, and support. The grieving person will likely experience many changes throughout the process. Many writers and helpers have described these changes beginning with an experience of shock, followed by a long process of suffering (Sadness, Anger, Guilt, Anxiety, Physical, behavioral and cognitive symptoms) and finally a process of recovery. These processes are described below.
  • Physical, behavioral and cognitive symptoms. Often, grief is accompanied by periods of fatigue, loss of motivation or desire for things that were once enjoyable, changes in sleeping and eating patterns, confusion, preoccupation, and loss of concentration.
  • “In shock your actions are mechanical. You do what you have to do. In suffering your actions are forced by convention or by your own restlessness. But in recovery, your actions are by your own free choice.” (Kreis & Pattie, 1969).
  • Society promotes many misconceptions about grief that may actually hinder the recovery and growth that follow loss. For example, many believe it necessary to try to change how a grieving friend is feeling and may do so by making statements such as, “You must be strong,” “You have to get on with your life,” or “It’s good that he didn’t have to suffer.” Such cliches may help the one saying them, but are rarely helpful to the griever. Society also promotes the misconception that it is not appropriate to show emotions except at the funeral, and that recovery should be complete within six months. A helper needs to avoid these and other ways of minimizing a person’s grief. Those in grief need to be encouraged to recover in their own ways.

Ini bukan tentang keikhlasan atau ketidak ikhlasan. Bukan tentang ketiadaan yang berlarut-larut. Bukan tentang pemahaman untuk menghargai atau bersyukur tentang apa yang masih kamu miliki dan orang lain tidak. Bukan tentang pendekatan spiritual tertentu yang digunakan untuk menepis kesedihan dan kemarahan. Saya sudah kenyang mendengar itu semua. Buat kamu yang belum merasakan kehilangan seorang Ibu, sepandai-pandainya kamu berusaha menempatkan dirimu as a helper, it will not work out. Bagi mereka yang kehilangan pun, pengalaman satu dan lainnya tidak dapat disamakan.

Kamu tidak tahu bagaimana kehilangan akan seseorang yang kamu cintai itu membuatmu ‘sakit’ dan ‘terkapar’. Kamu tidak bisa karena kamu tidak tahu bagaimana rasanya, kondisinya, situasinya. Kamu hanya bisa tahu, saat kamu merasakannya. Bagaimana cinta seorang Ibu, satu-satunya cinta yang menaungi dan menerangi rumah kini lenyap. Tersisa tiga nyawa yang terlalu keras hatinya. Tidak bisa memahami satu sama lain, dan terlalu sibuk untuk membela ke-Aku-anku dalam hajat hidupnya masing-masing. Rumah kini menjadi ladang kekecewaan dan keputus asaan. Energi positifnya hilang, termasuk pada dua inti di keluarga. Semoga saya sebagai inti ketiga masih memiliki sedikit energinya. Semoga.

Kamu tidak bisa mengatur tombol perasaan dan hatimu seperti default setting seharusnya pada pengalaman kehilangan. Kamu tidak perlu memanipulasi perasaan sedih dan kehilangan itu dengan ke(sok)kuatan yang coba kamu munculkan. Perlahan tapi pasti saya akan terbiasa dengan kepincangan ini. Karena yang saya butuhkan hanya waktu dan dengan cara saya sendiri untuk memulihkannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s