Sebuah Monolog Kehilangan

Tunggu saya !

Tidak bisa. Adakalanya kita harus berjalan sendiri-sendiri.

Begitu katanya. Saya hanya bisa terpekur lama duduk, tidak jarang saya melakukan ini hingga berjam-jam, berpikir akan peristiwa hidup yang terjadi, tentang kehilangan demi kehilangan. Menolak percaya bahwa semua ini harus terjadi. Tapi kesedihan kali ini sungguh melukai hati. Haruskah ini datang bertubi-tubi. Disaat tahun yang baru semua manusia berlomba-lomba berdoa dan berusaha agar mendapatkan perihal baik dalam hidupnya. Tapi ini ?

Sabar saja, kelak kamu mendapatkan yang terbaik. Cepat atau lambat kamu akan menemukan apa yang kamu cari selama ini. Harapan itu tidak boleh mati.

Begitu pesannya, ketika saya mendapati pertamakalinya bahwa momen kehilangan itu nyata. Pahit dan harus dihadapi. Semuanya lenyap. Apakah saya masih boleh berharap ? Saya tidak punya daya sekalipun mengucapkan sepatah kata lagi.

Kegelapan itu tidak selama-lamanya ada pada kamu. Percayalah, setelah kegelapan yang panjang ini, akan ada sinar terang yang menuntunmu. Pelan. Kemanakah kamu yang dulu ? Kamu tidak gila, kamu wajar, kamu normal, kenapa harus murung seperti itu ?

Saya yakin cuma kamu diantara ribuan manusia di planet bumi ini yang mengatakan saya normal. Ribuan lainnya bilang saya gila, dengan mimpi saya, dengan apa yang ingin saya lakukan dalam hidup ini.

Kalau itu membuat kamu bahagia, go ahead ! Lakukan saja. Tidak ada yang salah dengan sebuah pilihan. Tidak yakin ? Ada keraguan ? Apa saja yang menjadi pertimbanganmu ? Kamu tidak sendirian, saya ada disana, walau tidak disampingmu. Kamu tidak kehilangan apa-apa. Percayalah.

Saya menarik nafas, apakah saya tidak berhak mendapatkan kebahagian seperti yang kamu rasakan saat ini ? Justru kehilangan demi kehilangan yang datang, dan ketakutan yang menyusul kemudian.

Angkat dagumu, hapus airmatamu. Hidup tercipta seimbang. Karena ada jalan dan tujuan. Keduanya saling melengkapi.

Tidak bisa kutahan lagi bulir airmata ini. Kubiarkan ia jatuh, membasahi pipi.

Percayalah, ketika kamu merasa semua pintu terkunci, semua jalan seolah membuatmu tersesat lebih jauh lagi, dan hidup seolah-olah tidak mengasihimu, Tuhan tetap mengasihimu. Ingatlah itu. Jangan biarkan kegelapan ini menguasai hidupmu berlarut-larut. Sang Surya pun adakalanya mengurangi pancaran sinarnya, dia tidak bersinar terus menerus, pun dia butuh istirahat.

“Have a little faith, please !”

___________________________________________________________________

 

Senja. Saat dia datang kemudian saya mengingat semua momen itu dengan sangat manis. Sangat berharga. Terima kasih untuk segalanya.

(mixed feeling inspired from Lost by Mr. Bubble  and Lost by Coldplay)

“The way to love anything is to realize that it may be lost.” -Gilbert K Chesterton-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s