Kurama-Kibune at a glance

Ketika saya merencakan untuk short solo backpacking ke Jepang, tanpa ragu-ragu saya memasukkan Kyoto ke dalam daftar rencana perjalanan. Sejauh saya menggali informasi dari dunia maya, kota ini terlalu indah untuk dilewatkan. Selain dikenal karena kebudayaannya, kota dalam wilayah Kansai ini jauh lebih santai. Menurut saya tidak terlalu urban bila dibandingkan Osaka maupun Tokyo. Nyatanya ? Memang indah. Posting kali ini lebih bercerita tentang setengah hari perjalanan saya trekking di kaki gunung Kurama, sisi utara kota yang pernah menjadi ibukota Jepang sebelum beralih ke Tokyo pada tahun 1869.

Image

(Advertising di Stasiun Demachiyanagi)

Pagi itu saya meninggalkan rumah Fumie -host saya- di daerah Kitashirakawa. Bermodalkan Kyoto City Bus Pass yang berlaku 1 hari untuk sepuasnya yang sudah saya beli H-1 di Kyoto Station dan selembar peta wisata Kurama-Kibune, berangkatlah saya menuju stasiun Demachiyanagi yang terletak hanya dua pemberhentian bus dari apartemen tempat Fumie tinggal.

Image

(Peta Wisata Kurama-Kibune yang sangat menarik)

Dari Demachiyanagi saya menyambung kereta Eizan (private railway) menuju Kibuneguchi-Kurama. Tiket seharga 820 Yen langsung saya beli untuk pulang pergi. Alasan utama memilih tempat ini karena memang preferensi solo backpacking ke Jepang saya hiking, “back to nature”. Gunung Fuji adalah agenda utama. Namun, trekking di taman nasional, kawasan air terjun, atau di sekitar kaki pegunungan adalah bonus berlipat yang saya dapatkan selama disana.

Image

(Peta Trekking Kurama-Kibune)

Begitu kereta datang saya agak heran, karena ukurannya mini hanya setengah gerbong KRL (dalam kota) Jakarta. Frekuensi keberangkatan kereta ini setiap 15-20 menit sekali. Sejauh informasi yang saya dapatkan, bila berencana untuk trekking lebih baik turun di Kibuneguchi, satu stasiun sebelum Kurama yang menjadi akhir dari perjalanan. Dibutuhkan waktu sekitar 28 menit menuju stasiun Kibuneguchi, dan 30 menit kembali menuju Demachiyanagi stasiun. Ternyata di dalam kereta semua penumpang yang sekaligus pengunjung sudah siap dengan perlengkapan mendaki (outfit, topi dan tidak lupa tongkatnya). Ah senang sekali rasanya, i’ll never walk alone !

This is the train !

This is the train !

You'll never walk alone :)

(You’ll never walk alone)

Pemandangan diluar tidak kalah menyenangkan perasaan saya. Inilah pemandangan terindah dari dalam kereta yang bisa saya nikmati selama di Jepang. Barisan pohon cemara yang tinggi menjulang seolah menyambut kedatangan kami. Tiupan angin dan cuaca yang tidak terlalu terik sangat mendukung rencana perjalanan siang ini.

Image

(Beautiful ! Enough said)

Sesampainya di Stasiun Kibuneguchi ada bus berbayar yang menjemput para penumpang dari stasiun menuju Kibuneguchi village dan Kibune Shrine. Saya memilih berjalan menyusuri aspal di tepian sungai berbatu. Pohon cedar adalah vegetasi yang mendominasi pemandangan disana. Kemudian saya membayangkan betapa indahnya pemandangan saat musim gugur, daun-daun berganti menjadi kemerahan. Banyak restoran “lesehan” ala Jepang di atas sungai ini yang dipastikan mahal untuk seporsi menu sederhana. Tidak sesederhana kantong saya. Hehehe.

Image

(Belum autumn, tapi ada yang kemerahan)

Image

(Dining on the deck yang konon super mahal)

Sepanjang perjalanan trekking ini, tidak henti-hentinya disapa para pejalan lain, locals. Tipikal asian people : ramah. Konnichiwa sambil sedikit membungkuk. Praktis, setiap berpapasan pejalan dari lawan arah, di depan atau belakang kami saling menyapa. Setelah mengunjungi Kibune Shrine sebagai pemberhentian pertama, saya masih terus berjalan, sampai bertemu sebuah jembatan merah (red bridge) ke arah hutan jalur trekking ini dimulai. Biaya resmi trekking ini 200 Yen, dipinjamkan tongkat. Tidak seperti saat trekking Fuji, tongkat dijual paling murah seharga 1000 Yen. Belajar dari pengalaman, tongkat adalah sahabat terbaik ketika lutut mulai nyut-nyutan, tanpa pikir panjang saya membawanya.

Image

(Stairway to Kibune Shrine)

Ratusan meter pertama jalur ini cukup terjal, dan cukup membuat saya ngos-ngosan. Sekitar 30 menit saya menemukan shrine pertama. Alangkah nikmatnya duduk-duduk dibawah pohon, mengatur nafas. Momen yang mungkin saja tidak terulang lagi. Ratusan meter berikutnya yang saya temui shrine, pohon-pohon besar, dan pohon cedar yang akarnya menembus permukaan tanah. Terdapat museum flora, fauna dan serangga. Tidak jauh setelahnya sampai di Kondo, main hall sekaligus view paling pas untuk menikmati pemandangan.

DSC04903

(Akar Pohon Cedar)

Image

(Angin dari atas sini sejuuuuuuuk)

Berikutnya, rute menurun dan terasa lebih mudah. Ada beberapa alternatif jalan salah satunya menuju Kurama Onsen. Ingin sekali mampir, tetapi saya terlanjur berjanji bertemu kawan di Stasiun Kyoto. Perlahan tapi pasti saya hampir menyelesaikan rute ini. Ratusan meter berikutnya sampailah saya di Niomon, pintu masuk Kurama temple. Di tempat inilah setiap tahunnya di tanggal 22 Oktober diselenggarakan Kurama Fire Festival.

Tiga setengah jam yang tidak biasa dalam hidup saya. Terima kasih, Tuhan 🙂

Image

 🙂

Image

(Tengu as Kurama Icon)

DSC04991

(Bonus Pemandangan Sewaktu Pulang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s