Tentang Mas Budi

Sebut saja namanya Budi. Dia adalah nama seorang supir burungbiru yang mengantar PERJALANAN saya pagi tadi dari kantor sekitar jam 3. Sudah dua tahun lebih saya berada dalam ritme jam kerja yang tidak seperti layaknya orang kantoran. *baca: nine to five* Pengalaman disupiri siburungbiru tentunya berbeda-beda. Kebanyakan, supir taksi di hari-hari saya cukup ramah, ada juga yang ugal-ugalan karena euphoria jalan kosong dini hari, yang tadinya saya memaksa raga untuk tidur tak berhasil hingga mual tidak karuan, ada JUGA yang tidak tahu jalan (hello ! salam dari armada yang katanya punya nama besar di Jakarta) atau ekstrimnya saya pernah disupiri dengan tidak sopan sama sekali. Tanpa menunggu berganti hari, saya complain ke office-nya, yang hanya berujung maaf dari telfon sang supervisor, keESOKan harinya.

Pengalaman kali ini cukup unik, waktu saya masuk mobil. Mas Budi ini dengan lantang dan cerianya mengucapkan salam “Selamat Pagi”. Ketawa miris juga sih mendengarnya, karena memang waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, yak tiga Pagi dan saya baru menuju kembali ke rumah. Radionya masih menyala dan langsung dimatikan, padahal suara Tompi terdengar merdu di telinga, hehe favorit saya (dulu kala). Saya memintanya untuk menyalakan kembali sambil berucap “Nyalain aja, mas. Saya nggak boleh tertidur!” Yak, target saya memang melanjutkan kembali pekerjaan ini sesampainya di rumah hingga tuntas, sebelum matahari terbit ! *brb baca sejarah candi prambanan*

Supir ini talk active tapi tidak annoying, wawasannya lumayan memancing saya untuk mengobrol, yak mengobrol, bukan sekedar menanggapi omongan yang seperti saya lakukan biasanya sebagai umpan balik ke pak supir pak supir burungbiruyang memang rata-rata santun dan ramah (hmmm bener nggak ya?). Dia tahu lho, kalau kantor lama saya di Wisma Antara. Dan dia mengetahui persis ritme kerja gang empat itu.  Dia tau gang empat itu apa saja : ada si E , si Pe, si K, dan De kantor saya. Dia tahu kalo si Pe itu nggak menerapkan voucher taksi  burungbiru dari kantornya tapi dari kliennya, sampai memberi contoh segala. Beda dengan si E yang memang berlangganan sama seperti kantor tempat saya bekerja. Dia tahu kalau kerjaan kami itu nggak ada habisnya, turnover pegawainya cepat sekali bahkan dalam hitungan bulan. Dan dia tahu kalau pekerja macam saya ini rentan terserang typhus. Tamu-tamunya suka mengeluh penyakitnya itu lho. Wahahaha, supir ini menyenangkan deh. Waktu radionya ganti lagu dan lawas tahun 90-an sometimes love just ain’t enough dia sempat humming humming sambil bilang ini lagu tahun 93-an mbak, waktu saya masih pengantin baru. Bah ! Wajahnya yang awet muda atau saya yang ngantuk yaa kalau dia itu ternyata sudah hampir 20 tahun menikah ? Nggak kelihatan lho. Setelah itu dia nyambung ke backstreet boys lah, dan musik-musik lainnya. Saya mulai melongo.

Saya nggak ngantuk sama sekali jadinya. Pembicaraan kami terus berlanjut sampai topik pekerjaan yang dia geluti saat ini. Awalnya saya hanya bertanya tentang bagaimana sistem order itu bekerja. Radio panggil itu memberikan order dan sekitar lima taksi dalam lokasi terdekat pihak yang mengorderlah yang menjadi kandidatnya, dan mereka yang merespon paling cepat yang mendapat umpannya. Dia menjelaskan perbedaan dengan sistem radio panggil yang lama. Kemudian pembicaraan berkembang ke waktu bekerja mas Budi, dia mendapat tanggung jawab untuk bekerja shift siang dari jam 12 hingga jam 10 Pagi. Maka, kebanyakan penumpang rutinnya dikala dini hari ya karyawan gang empat seperti saya. Makanya dia punya populasi penumpang yang sama profesinya, bahkan dia tahu rata-rata karyawan gang empat di E itu lulusan mana, di Pe, di K dan De. “Nggak jauh beda mba jam kerja kita.” But, why does he look so happy and smiley ? Padahal dia cerita siang tadi setorannya sedikit. Teman-temannya sesama dari pool Kramat Jati mengeluh sepi penumpang. Karena awal puasa dan tanggal tua, begitu analisanya. Menurut penjelasannya setiap harinya dia berkewajiban menyetorkan Rp 600.000 untuk mendapatkan sejumlah komisi (langsung) Rp 100.000. Bila dibawah itu dia bisa kena penalti, tetapi kalau diatas itu bonus perbulannya lumayan. Tanpa gaji. Jadi setiap bulan mas Budi bergantung dari komisi harian dan bonus. Jumlah bonus yang didapatnya bervariasi, tergantung rata-rata setoran, dan katanya untuk mendapatkan shift seperti beliau, rata-rata setorannya harus baik, selain faktor kesehatannya tentu menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting. “Kalau setoran hariannya tidak sampai Rp 600.000 katakanlah lima ratus ribuan, komisinya hanya Rp 30.000.” Sedangkan masih ada angsuran mobil yang akan langsung dipotong dari bonus bulanannya. Terus saya jadi mikir, ini orang kapan istirahatnya ? Kalau saya mungkin bisa lebih fleksibel mengatur jam kerja. Tapi kalau si mas Budi ini mengatakan jam istirahatnya sekitar jam 8 pagi sampai jam 12 siang, terus lanjut lagi kalau fisiknya mendukung. Seringnya, dia istirahat jam 12-2 dini hari baru lanjut lagi. Kalau lagi ngantuk banget mas Budi pilih ke pool hotel, jadi bisa ikut “markir” nunggu tamu sambil istirahat dalam antrian. Wah benar-benar nggak mudah. Pelajaran buat saya juga, hidup ini memang penuh usaha dan kerja keras, bung ! Dibalik itu semua, Mas Budi lebih senang mengambil shift ini. “Karena kalau shift yang satunya lagi katanya lebih banyak kena macet !”

“Pengalaman tamu-tamu saya pada pindah ke klien yan dia pegang, mbak ! Mbak kliennya dimana aja ? Dulu kuliah dimana, mbak ?” Dan sederet tanya jawab lain. Luar biasa, supir ini tentu tahu banyak tentang pekerjaan saya, walau cuma kulit luarnya saja. Setidaknya dia tidak punya JUDGEMENT tertentu. Eh tahu-tahu taksi sudah mendekati tujuannya. Sebelum saya turun dia sempat mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan, sambil mengucapkan terima kasih waktu voucher itu saya berikan.

I’m pleasure to meet you, Mas Budi ! A big thank you for sharing your experience and two-way nice conversation.I wish you my most heartfelt good luck in your life. Till we meet again someday.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s