Tentang Cinta : Tuhan, Alam dan Perjalanan

Jakarta. Hiruk pikuk, kebisingan, kemacetan. Asap knalpot dan teriakan kernet bertarung dengan deru kendaraan. Setiap orang sibuk dengan berbagai peran sesuai kepentingan masing-masing. Penumpang sibuk mengejar bus, pedagang asongan yang berteriak menjajakan dagangan, dan setiap insan yang berusaha mengejar waktu dalam setiap kepadatan yang ada untuk memulai aktivitasnya, atas nama bertahan hidup. Di jalan seberang, para pemangku kepentingan diberikan jalan spesial. Cukup dengan barisan pengawalan dan suara sirene, mereka meluncur bebas, tanpa menghiraukan kondisi jalan yang senyata-nyatanya padat ! Tanpa sutradara, bus-bus, manusia, jalan dan gedung tinggi seolah menjadi properti dalam pentas kehidupan di Jakarta.

Kepercayaan saya mengatakan bahwa bukan tiba-tiba apalagi kebetulan kali itu, Tuhan memanggil untuk keluar sejenak dari episode kehidupan Jakarta. Bersama dengan 17 rekan lain dari Magis Indonesia (Jakarta dan Yogyakarta) mendapatkan kesempatan mengikuti pertemuan Magis 2011 di Loyola yang berlanjut dengan 1 minggu eksperimen dan pekan terakhir World Youth Day di Madrid menjadi puncaknya. Ironisnya, beberapa minggu sebelum keberangkatan saya justru tidak semangat. Rutinitas membuat hidup terikat pada waktu, yang sudah pasti tidak bisa lebih dari 24 jam setiap harinya, nyatanya selalu saja kurang bagi saya.

Pekan itu tiba. Kami mengikuti pembukaan pertemuan Magis Internasional 2011 ini di Loyola. Sungguh, ini pengalaman pertama saya keluar Indonesia, sekaligus pengalaman pertama bertemu dengan teman-teman mancanegara. Kota di Spanyol Utara ini hening, bebas dari hiruk pikuk, udara yang sejuk dan keindahan alam yang ditawarkan sungguh sangat mempesona mata dan hati. Dua belas orang dari kami mempersembahkan Tari Saman pada malam festival kebudayaan yang dimeriahkan juga dengan pementasan kebudayaan beberapa negara lain. Pengalaman itu terekam spesial dalam memori saya secara personal.

Pekan berikutnya datang, Seluruh peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok eksperimen yang masing-masing terdiri dari 25 orang berasal dari tiga negara berbeda. Terdapat enam tema eksperimen yaitu : pilgrimage, faith and culture, art and creativity, spirituality, social action (volunteering), dan ecology. 99 titik eksperimen ditetapkan di tiga negara : Spanyol, Portugal dan Perancis. Sembilan orang dari Indonesia tergabung ke kelompok eksperimen Spirituality di Salamanca, dan sembilan orang lainnya ke dalam kelompok Pilgrimage dengan rute Loyola-Navarrete dan saya tergabung ke dalam kelompok ini.

Minggu, sehari sebelum keberangkatan masing-masing kelompok dikumpulkan untuk briefing teknis. Adalah tiga orang koordinator yang bersama kelompok ini, satu mengampu sebagai koordinator utama bernama (Father) Michael Pastor, SJ,  yang menangani urusan logistik bernama (Brother) Fabian Melendi, SJ, dan untuk urusan teknis dipegang oleh Xabier Arpide yang menurut saya lebih mirip Colin Farrell versi Spanyol J. Perkenalan singkat dari masing-masing anggota dari tiga negara : Indonesia,  Hungaria dan Polandia, penjelasan mengenai barang-barang apa yang harus kami bawa sepanjang perjalanan dan pengarahan lainnya yang menjadi agenda sore itu. Ketidaktahuan akan rute yang akan kami lalui seminggu ke depan mulai nampak sedikit. Salah satu bagian tersulitnya adalah mendaki gunung.

“Bawalah sesuatu yang mencukupkanmu.” Masih teringat pesan Sr. Inez, FCJ dalam circle setelah briefing berakhir. Ketakutan, kekhawatiran, dan pikiran negatif mulai menghantui saya. Sambil berkemas malam harinya, pikiran saya bercabang kemana-mana, mulai mempertimbangkan barang apa yang harus saya bawa dan tinggal, juga mengenai kondisi fisik. Minggu-minggu terakhir sebelum berangkat, jam tidur saya abnormal. Belum lagi tensi darah yang memang rendah. Bagaimana kalau saya pingsan lantas membuat susah orang ? Siapa yang akan menggotong saya ? Selesai berkemas dan hendak beranjak beristirahat ternyata sudah pukul empat pagi, saya menjadi penghuni yang terakhir tidur di gimnasium hari itu.

Setengah delapan pagi. Saya berjalan untuk sarapan di arena belakang Basilika St. Ignatius Loyola. Bersama si ransel kecil biru dongker di punggung yang saya pilih untuk menemani satu minggu ke depan, didalamnya berisi dua potong kaos ganti, satu pasang pakaian tidur, perlengkapan mandi dan sleeping bag. Bersama dengan kaos, jaket dan celana training yang melekat dan sandal gunung seharga Rp 25.000 stok cuci gudang yang saya beli tiga minggu sebelum keberangkatan. Tanpa jas hujan, apalagi sepatu yang tepat untuk berjalan jauh, saya mulai pasrah melalui hari pertama ini. Sebelum perjalanan dimulai, grup kami dibawa ke dalam Kapel yang berada di dalam Museum St. Ignatius Loyola, untuk berdoa secara pribadi. Saya memohonkan kepada Allah sebuah Rahmat dari perjalanan ini adalah kesabaran,  kepasrahan kepadaNya, dan kesadaran untuk lebih mengenal siapa Dia yang belum saya ketahui. Saya bersandar sepenuhnya kepada Tuhan dan bersikap lepas bebas.

Ketakutan pertama sama adalah hujan, karena saya tidak memiliki jas hujan. Benar saja, ketika kami keluar dari Kapel, hujan turun. Perjalanan harus tetap dimulai. Loyola-Zumaragga berjarak sekitar 18 km. Dan saya berdoa agar hujan ini reda. Tuhan mengetahui apa yang saya butuhkan. Lewat Father Michael, saya dibelikan jas hujan dan dipinjamkan selama seminggu ke depan. Tuhan menjawab rasa khawatir itu saat makan siang pertama kami sewaktu memberikan jas hujan itu dalam peziarahan ini. Terasa berat dan sakit, itulah kesan hari ini. Selain cuaca yang ekstrim berubah dari hujan, kemudian panas, kami harus beradaptasi pada langkah kaki dan aspal yang mayoritas menjadi medan tempur, lebih dari cukup ‘menggigit’ telapak kaki. Tidak heran, blister sudah tumbuh di telapak kaki dari beberapa rekan. Akhirnya kami sampai di kompleks sekolah yang menjadi tempat istirahat kami hari itu. Setelah perayaan ekaristi di sebuah gereja bernama Sicile Ecclesiae Parroch Ste. Mariae Assumptionis De Legazpia, kami makan malam bersama. Kami diberitahu rute keesokan hari. Menanjak.

Pukul Sembilan. Pagi ini setelah sarapan kami berkumpul membaca renungan harian dengan tema Another Life is Possible ! Bagus sekali doa pengantar renungan pagi ini,

“Lord, may I learn each day to detach myself from whatever prevents me following you, and embrace whatever brings me closer to you.”

Kami mulai menyusuri jalan dan tiba di Mirandaola, terdapat sebuah penambangan konservatif bijih besi, yang mati sejalan dengan perkembangan teknologi. Didekatnya terdapat kapel dan kami masing-masing berdoa sejenak memohon rahmat di hari kedua ini. Menanjak pelan tapi pasti. Pemandangan seolah menjadi bonusnya. Luar biasa indah. Dan sesaat sebelum kami memulai episode jalan berbatu dan semakin ekstrim menanjak, kami berkumpul untuk dibagikan coklat dan sebagai asupan energi. Napas saya mulai satu-satu, peluh bercucuran. Kali ini, saya memilih untuk menyusuri jalan sendiri. Tanpa kawan di kiri kanan. Sepi berjalan tenang, menunduk, dan membiarkan diri dirasuki irama alam yang senyap. Semakin menanjak semakin ingin menyerah, di depan tidak terlihat apa-apa selain hutan dengan medan yang berinklinasi. Saya mulai merasa lapar dan menggumam jam makan siang masih terlalu jauh.Kurang lebih dua jam kemudian kami berhenti untuk beristirahat sejenak. Sebuah Pir terasa tidak pernah seenak dan sesegar siang itu. Saya menghabiskannya begitu cepat karena kelaparan.

Tidak lama kami kembali meneruskan perjalanan. Menanjak terus. Sekarang saya mulai kesal dan marah dalam hati. Kapan sampainya ? Kaki sudah sakit sekali. Lagu naik-naik ke puncak gunung baru saya pahami maknanya kala itu. Setelah beberapa jam sampai juga di puncak gunung Arriurdin Biezkornia setinggi 1,273 m diatas permukaan laut. Udara dan angin seolah melebur, dan sangat dingin menusuk. Segera setelah makan siang kami mulai melanjutkan perjalanan dan turun landai. Pemandangan setelahnya tidak kalah indah. Bukit hijau membentang plus batu-batu besar mendominasi, hingga tiba di Arantzazu, tempat peristirahatan setelah perjalanan 20km lebih hari itu. Lokasi di lereng pegunungan membuat cuaca malam itu dingin. Kombinasi sup plus roti dan susu menjadi menu makan malam hari itu. Hangat. Sehangat obrolan antar rekan perjalanan, yang sudah mulai akrab satu sama lain. Malam itu, pertama kalinya kami dibagi ke dalam circle. Ada empat circle yang dicampur dari tiap negara, masing-masing terdiri dari 6-7 orang. Setelah sharing circle kami bersatu dalam perayaan ekaristi yang sederhana namun begitu berkesan, saya merasa Tuhan berbicara dan berada di dekat saya merangkul dalam cuaca ini.

Pagi berikutnya saya terbangun karena nyayian dari teman-teman untuk Father Zoltan, Magis Animator dari Hungaria yang berulang tahun hari itu. Kebiasaan setiap pagi sebelum memulai perjalanan adalah renungan pagi yang berbeda tema dan doa setiap harinya. Tema hari ini “No one said it would be easy!” Doa hari ini :

“Lord may I learn to welcome upheaval, difficulty, my own fragility. May I, as you , not give up during moments of darkness. And at these times may I know how to turn to you with more trust than ever.”

 

..No one said it  was easy to seek God (…) We come across obstacles within ourselves and in others. We have doubts. We want to go back home (..) Nevertheless, living means being capable of dealing with difficult moments. It means accepting , like Moses like Ignatius and like so many others, that our plans don’t always work out as we thought. It means fighting against fear. And it means trusting, at such moments, in God and in one’s neighbor.

Nyata sekali bacaan itu seperti suara hati saya dalam perjalanan ini. Perjalanan ini sungguh tidak mudah. Tapi pesan Tuhan terselip dan memberikan kekuatan serta pengharapan dan membuat saya merefleksikan hidup saya selama ini. Bahwa tidak selalu hal yang kita rencanakan itu berjalan semestinya, dan disanalah kepercayaan yang hendak Tuhan inginkan dari manusia. Ya, saya harus melalui perjalanan ini dengan sukacita, walau tidak mudah, janji saya hari itu. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami masuk ke dalam gereja Arantzazu untuk renungan pagi.

Tabir surya adalah sahabat kami karena cuaca terik sangat berpotensi membakar kulit. Sesuai peta yang sempat saya foto, rute perjalanan hari ini sekitar 18 km dengan tujuan Araia. Hutan yang teduh karena sinar matahari terhalang barisan pohon besar yang melindungi kami dari sengatan matahari langsung adalah berkat lain Tuhan di hari itu sebelum kami memulai menanjak bukit lagi. Sesampainya di atas, kami beristirahat sejenak melepas lelah. Ratusan jumlah biri-biri yang dilepas begitu saja dan padang hijau membentang luas sekali di hadapan, tidak dipenuhi bangunan, apalagi kendaraan yang lalu lalang. Siang itu merapatkan saya dan tiga rekan lain berjalan seirama. Bukan tiba-tiba, Father Zoltan mengajak kami Rosario bersama-sama. Saya bersama Dwy dalam bahasa bergantian mendaraskannya dengan Michal dalam bahasa Polandia, dan Father Zoltan sendiri dalam bahasa Hungaria.  Rosario tiga bahasa itu menguatkan saya secara pribadi, harapan itu tetap Ia hidupkan.

Beberapa saat kemudian kami dibawa masuk melihat-lihat  tempat pengolahan keju dari biri-biri sebagai salah satu industri rumah tangga dari penduduk Urbia. Otak ini bersinergi dengan perut dan mulai merasakan sinyal-sinyal kelaparan. Saya rindu makan nasi. Sepiring nasi hangat dengan lauk apapun ada di hadapan mata sebagai makan siang hari itu sungguh terasa istimewa, imajinasi saya kian menjadi.Kilometer demi kilometer berlalu dan kami sampai di kolam renang umum. Teman-teman begitu antusias untuk menceburkan diri ke segarnya air kolam. Saya lebih pilih siesta (tidur siang) untuk mengembalikan energi sambil cuci-cuci pakaian selagi bisa. Selepas istirahat sejenak, makan siang kami melanjutkan perjalanan lagi. Beberapa jam berjalan sampailah kami di Araia, tepatnya di sebuah gimnasium yang menjadi tempat peristirahatan malam hari itu. Perayaan ekaristi malam itu diadakan di pinggir lapangan di luar area gimnasium. Teman-teman Indonesia menghantarkan lagu pembukaan mengawali misa malam itu. Saya merasa Tuhan merangkul dekat sekali. Pertemuan alam dan companionship itu paket komplit membuat saya bersyukur atas hari yang telah dilewati dengan segala konsolasi dan desolasinya sendiri. Belum lepas dari rasa senang, Tuhan memberikan bonus lain, menu makan malam kami adalah nasi goreng. Luar biasa senangnya apalagi kami memasak bersama-sama. Masih ada chocolate cake ulang tahun Father Zoltan, wine, dan  koktail buah sebagai makanan penutup. Semua terasa cukup. Pertolongan Tuhan selalu tepat waktu, padahal siang harinya saya membayangkan nikmatnya makan nasi.

Pagi itu setelah sarapan dan renungan pagi seperti biasa, kami memulai perjalanan kembali. Melewati kompleks perumahan dan jalan raya dimana banyak truk-truk besar lalu lalang. Kami berada di pinggir sesekali tengok kiri-kanan. Seperti jalan tol atau setidaknya jalan antar kota. Beberapa jam berlalu dan kami makan siang di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai kendaraan. Sesekali antar teman melempar canda tawa dan saling cerita hal-hal yang unik. Kacang , coklat dan tabir surya melengkapi kami energi dan proteksi berganti medan. Setelah jalan raya, kami kembali melalui hutan dan banyak daun kering berguguran, teksturnya nyaman sekali waktu diinjak, tidak seperti pasir, tanah apalagi aspal. Bonus buat telapak kaki saya yang memang sudah mulai sakit di beberapa bagian. Puorto Nuevo. 17 km sudah dari titik keberangkatan, dan masih ada 4 km lagi yang harus dilalui. Tidak jauh di depan, kami diperlihatkan pemandangan Indah lagi di Aran Valley. Sayang, kamera yang saya bawa sudah habis baterainya sejak semalam, dan tidak ada aliran listrik di gimnasium. Hamparan sawah dan irigasinya terlihat seperti maket yang diproyeksikan sangat sempurna. Mayoritas kecoklatan, sebagian petak lain hijau dan ada beberapa rumah penduduk. Xabier berkata, ini menjadi perjalanan menanjak terakhir kami. Dan beberapa jam ke depan kami sampai di tujuan hari ini St. Teodocia, Alda.

Sesampainya disana, sebagian memilih untuk siesta, mandi, atau melepas penat dengan bermain ninja dan samurai ala L7. Sebelum makan malam kami masuk dalam circle. Saya merasa itu merupakan circle dengan setting tercantik yang pernah ada. Walau tahu kamera sudah mati total tetap saja saya bawa. Sewaktu kami selesai circle dan hendak kembali ke hut untukperayaan ekaristi, saya mengajak berkumpul sebentar untuk berfoto. Ternyata kamera itu masih bisa hidup walau hanya dapat 2-3 frame. Tuhan masih mengizinkan saya mengabadikan momen indah hari itu. Perayaan ekaristi malam itu sederhana yang lagi-lagi saya merasakan persentuhan mendalam. Teman-teman Indonesia menyanyikan lagu persembahan dan penutup misa. Setelah misa kami makan malam bersama-sama Patata Egg & Misoa plus roti. Sisi kerjasama terlihat pada masing-masing peran yang diambil. Ada yang bertugas menyiapkan sarapan (merebus susu) setiap pagi, bantu mempersiapkan memasak makan malam, dan bersih-bersih peralatan masak. Saya memilih yang terakhir. Sejak hari itu sampai hari terakhir, entah mengapa, saya menikmati sekali momen mencuci panci ini.

Karena air habis, pagi itu kami bergegas melanjutkan perjalanan tanpa cuci muka. Setelah berjalan satu jam lebih menemukan sumber air. Berjalan lagi, sayup-sayup kami bernyanyi Jesus Christ, You are my life, Alleluia, Alleluia, diulang berkali-kali untuk menguatkan diri sendiri dan teman lain. Jalan pasir berkerikil dan tumpukan jerami, perumahan penduduk dan jalan raya telah kami lewati dan setelah 4,5 jam dari awal keberangkatan, kami berhenti di kolam pemandian untuk beristirahat beberapa jam. Saya memutuskan untuk mandi karena sudah absen hari sebelumnya dan tidur setelahnya. Setelah bangun untuk makan siang, persiapan circle dan perayaan ekaristi saya sadar kulit saya terbakar, perih sekali dan sukses membuat saya menangis. Seorang rekan membiarkan saya menggunakan after sunburned lotion miliknya yang lumayan meredakan rasa perih wajah saya. Sekitar 3 jam lagi berjalan dari pemandian umum itu kami tiba di Cabredo. Kami menggunakan ruangan di lantai dua yang baru saja selesai di cat, persis di sebelah bar. Menu makan malam kami Patatas Krumpli yakni masakan khas Hungaria yang terdiri dari potongan kentang dan sosis serta rasa pedas paprika cukup mengisi perut. Telapak kaki saya semakin perih, dan benar saja sudah 3 blister di telapak kaki kanan.

Esok pagi, sebelum berangkat kami bekerjasama untuk membersihkan ruangan. Setelah sarapan kami melangkahkan kaki menyambut pagi yang cerah ini. Langkah saya tidak seperti biasanya, melambat dan terasa nyut-nyutan yang menjalar dari telapak hingga pangkal paha. Menembus jalan raya, dan kami berhenti sejenak di pinggir jalan besar dan memulai renungan pagi. Beberapa jam kemudian kami melewati rumah-rumah yang bentuknya sejenis, kami berhenti sejenak di sumber mata air dekat taman bermain untuk coklat dan kacang. Dan telapak kaki ini seperti berteriak minta istirahat, semakin sakit. Saya melawan sekuat tenaga untuk terus berjalan dan menjadi paling akhir bersama Sr. Inez. Dan sejauh ingatan saya siang itu, beliau mengatakan bahwa momen peziarahan/napak tilas ini menjadi sarana untuk mentoleransi dan menerima kelemahan-kelemahan pribadi. Tepat sekali ucapannya, lewat sakit ini saya belajar menerima diri saya apa adanya. Aspal menjadi medan tempur hari ini mirip seperti hari pertama. Saya berusaha menikmati perjalanan ini walaupun belasan km “tergigit” aspal. Pemandangan pohon berry, almond, zaitun dan perkebunan anggur yang saya lewati Indah sekali. Setelah 27 km perjalanan hari ini akhirnya kami sampai pada gimnasium Lantziego, Laguardia.

Terik matahari sepanjang hari ini cukup membuat kepala pusing. Tidak lama setelah saya merebahkan diri di gimnasium saya langsung tertidur pulas. Beruntung, waktu saya bangun, masih tersisa roti, tomat dan beberapa lembar salami dan sosis, tinggal saya seorang diri yang belum makan siang. Hari itu, gimnasium yang kami diami dilengkapi dengan kamar mandi. Berkat, karena bisa mandi dan mencuci pakaian. Sore hari kami masuk ke dalam circle kecil. Kami berbagi pengalaman masing-masing tentang apa yang menjadi desolasi dan konsolasi di hari itu. Dari sekian desolasi, saya senang karena hari itu kami dibekali buah peach (dugaan saya) yang teksturnya lembut sekali dan saya sangat menyukainya. Teman-teman lain di circle menertawakan apalagi setelah saya bilang, buah seperti itu tidak ada di Jakarta. Perayaan Ekaristi berlangsung diantara pergantian waktu. Langit masih terang benderang sewaktu misa dimulai dan meredup perlahan. Lagi, persenyawaan alam ini mendekatkan saya dalam keheningan mendalam dan Tuhan seperti dekat sekali. Tidak terasa sudah malam keenam. Waktu berlalu cepat. Tinggal sehari lagi kami menikmati kebersamaan ini. Sinar bulan malam itu berpendar di langit, dan kami berkumpul dibawahnya membentuk lingkaran untuk makan malam bersama.

Hari ini menjadi hari terakhir perjalanan kami bersama-sama. Aspal yang menggigit pun saya hiraukan. Perlahan tapi pasti, kaki ini bekerjasama menuruni ketinggian Laguardia hingga 240 meter. Beberapa jam kemudian kami berhenti untuk istirahat sejenak. Kami diberikan buah peach lagi, dan saya menghabiskannya dengan cepat. Dan, seorang temen circle memberikan buah peachnya kepada saya. Katanya, kamu lebih menyukainya, ambillah. Personifikasi cinta Tuhan hadir dalam buah yang diberikan teman saya saat itu. Perjalanan berlanjut dengan pasir berkerikil dan hamparan perkebunan anggur. Kami melewati kota yang banyak penduduknya tidak seperti kota-kota yang kami lewati beberapa hari sebelumnya. Kebetulan di taman kota Fuenmayor sedang ada pertunjukan musik lokal. Lantunan musik membuat teman-teman yang beristirahat sejenak ikut bergoyang, Dan dengan selamat sentosa dan pada saat yang berbahagia telah sampailah kami di muka pintu albergue(penginapan) tempat kami beristirahat hari itu di Navarrete. Bukan tipuan optis kalau yang saya lihat itu sebuah penginapan dan berarti ada deretan kasur,di dalamnya. Hore ! Walaupun saya harus membaginya berdua dengan Esi, empuknya tidur di atas kasur tidak pernah senikmat malam itu. Surga dan bumi seperti berpelukan.

Perayaan ekaristi hari itu berlangsung sangat akrab dekat penginapan. Perasaan haru tumpah ruah bersama ucapan maaf, terima kasih, tangisan dan pelukan satu sama lain anggota grup L7 melengkapi perayaan ekaristi yang sekaligus menutup perjalanan kami. Tuhan sungguh baik, kami dipersatukan dalam perbedaan kultur dan melalui rintangan selama seminggu perjalanan bersama-sama. Sungguh menjadi momen-momen berharga dan pelajaran sepanjang hidup. KebaikanNya tidak itu saja. Selepas perayaan ekaristi persis di depan gereja sedang berlangsung fiesta (pesta rakyat). Segelas anggur dan sebuah bocadillo (sandwich) masing-masing untuk kami. Selanjutnya, kami dibawa ke sebuah rumah, yang menjadi titik tolak St. Ignatius Loyola ketika melepaskan semua harta benda yang dimilikinya yang kemudian dibagikan kepada orang yang lebih membutuhkannya sebelum menuju Montserrat. Di tempat inilah ini kami diberikan sebuah pin, tanda mata dari perjalanan peziarahan seminggu ini. Masing-masing grup dari tiap negara mengucapkan terima kasih lewat nyanyian sederhana kepada tiga orang koordinator multi talenta kami. Mereka bisa menjadi koki sekaligus dokter, tukang pijat, bapak rumah tangga dan atlet, dan aktor film action 🙂

***

20 m di muka pintu albergue Navarrete, siang hari itu.

Father Zoltan : “Hi Melty. Can I help you ?”

Me : “No, thanks Father.”

Father Zoltan : “Thank God. We finally made it !”

Me : *(undescribable smile appeared from tired face)*

 

 

When life gives you lemons, make lemonade !

Pengalaman ditemani Tuhan dalam tiap pribadi tentu saja spesial dan beragam. Bagi si A Tuhan berada di dekatNya sewaktu lulus kuliah tepat waktu dan mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya. B merasa Tuhan menjaga hatinya untuk tetap berpuasa dan tidak tergoda sewaktu berpuasa di Bulan Suci Ramadhan. C merasa Tuhan menyelamatkannya di saat-saat kegelisahan dan kepepet. D sadar bahwa Tuhan mencintainya lewat permasalahan yang diubah sebagai berkat, dan masih banyak rentetan pengalaman lainnya. Secara pribadi pengalaman peziarahan Loyola-Navarrete sekitar 135 km yang melintasi 3 regions cantik Pais Vasco, Navarre, dan La Rioja di Spanyol Utara, Agustus tahun lalu adalah satu dari sekian pengalaman akan besarnya cinta Tuhan pada saya. Tuhan seperti dekat sekali, walaupun tidak nampak Ia seolah menemani langkah-langkah saya. Ia membebaskan rasa kekhawatiran, ketakutan, dan mencukupkan segala sesuatunya selama perjalanan. Tuhan berjaga kapan saja, termasuk titik-titik di luar zona nyaman saya.

 

“God is the friend of silence. See how nature – trees, flowers, grass – grows in silence ; see the stars, the moon and the sun, how they move in silence. We need silence to be able to touch soul” –Mother Theresa-

Perjalanan ini memberikan banyak pengalaman dan nilai-nilai spiritualitas yang penting. Setidaknya ada empat hal : Iman, yang menunjuk kemampuan untuk menciptakan waktu hening dan berdoa, untuk membaca dan terinspirasi dari setiap renungan harian. Membuka dan memberikan hati pada Tuhan dan sesama. Kesetiaan, dalam peran apapun besar atau kecil yang dapat diberikan, mulai dari merebus susu sepanci untuk sarapan, membagikan ransum kepada teman-teman, mengupas kentang, mengobati luka, mencuci panci, menyapu, mengepel tempat peristirahatan kami. Kejujuran, terutama dalam pengolahan batin, saat berbagi cerita dengan teman circle, merasakan dan bukan menghindari setiap desolasi dan konsolasi yang terjadi sepanjang perjalanan dan penerimaan atas kekurangan diri sendiri. Kepedulian , ketika satu sama lain membutuhkan pertolongan, atau sesederhana memberikan tangan dan senyum untuk hari-hari yang melelahkan. Patience, acceptance and surrender. Hati yang dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran berubah melalui upaya kesabaran atas segala rintangan , penerimaan diri yang meninggikan arti syukur dan pasrah sepenuhnya bahwa Tuhan punya rencana besar. Saya jatuh cinta pada harapan, karena harapan yang membuat hidup ini terus berjalan.

Dan sewaktu saya memutar ulang pengalaman ini, saya kembali pada episode awal. Sebagai manusia selalu saja ada keterbatasan yang muncul dalam setiap potret kehidupan yang kita jalani. Keterbatasan itu manusiawi. Bahwa tidak ada kesuksesan tanpa kegagalan, tidak ada kesabaran bila tidak ada emosi, tidak ada maaf tanpa kesalahan, tidak ada sehat bila tidak ada sakit, tidak ada kerendahan hati bila tidak ada kesombongan, tidak ada usaha bila tidak ada pelanggaran dan lainnya.  Sepenggal lagu Lauryn Hill yang tiba-tiba diperdengarkan seorang teman saat keterbatasan ini kembali mengemuka, sukses membuat hati saya mencelos.

 

Why should I feel discouraged
Why should the shadows come
Why should my heart feel lonely
And long for heaven and home
When Jesus is my portion
A constant friend is He
His eye is on the sparrow
And I know he watches over me

His eye is on the sparrow
And I know he watches me

 

Tuhan memantau. Selalu. Bahwa keterbatasan itulah yang mungkin Tuhan kehendaki, agar manusia tetap bersyukur atas apapun. Keterbatasan itu diciptakanNya bukan untuk menunjukkan kelemahan manusia, tetapi untuk menyadari kebesaranNya. KebesaranNya yang rata terbagi. Bahwa Ia tidak menjanjikan cinta dan kebahagiaan hanya kepada mereka yang beralis tebal, bertubuh ramping, berlesung pipit atau kepada mereka yang dapat bersikap lilin sempurna. CintaNya tidak memilih, tidak bersyarat. Indahnya, tidak cukup dilantunkan dalam sebuah sajak. Porsi dan akurasinya sempurna hingga tak ada instrumen dan barisan rumus yang mampu mengilustrasikannya . Besarnya tidak dapat diukur dengan satuan apapun. Jumlahnya lebih banyak dari bintang di langit, pasir di pantai, ikan di laut dan udara bebas yang terhirup. Makhluk hidup berubah dari waktu ke waktu, jerapah Darwin boleh menggambarkan bahwa kehidupan ini berevolusi. Sejatinya, Ialah Sang Ilmuwan, Sang Pencipta hukum ajaran  cinta kasih yang begitu mulianya. CintaNya terlebih dahulu kepada kita, melayakkan segala sesuatu dimuka bumi ini untuk kita cintai. Bagi saya, CintaNya anti kadaluarsa, tidak berubah wujud . Termakan oleh waktu sekalipun.

Bagaimana menurutmu ?

Image

Advertisements

One thought on “Tentang Cinta : Tuhan, Alam dan Perjalanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s